Cari Blog Ini

Memuat...

Artikel Filsafat Ilmu ontologi, epistemologi, aksiologi


BAB III
ONTOLOGI

1.      METAFISIKA

Bidang filsafati yang di sebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Di ibaratkan pikmiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya, dunia sepintas lalu kelihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai macam spekulasi filsafati tentang hakikatnya.
Prinsip-prinsip materialisme ini di kembangkan oleh Democritos (460-370 S.M). dia mengembangkan teori tentang atom yang di pelajarinya dari gurunya Leucippus. Bagi democritos. Unsur dasar dari alam ini adalah atom.
Disini kaum yang menganut mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk mahluk hidup)hanya gejala kimia fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substanstif dengan proses tersebut di atas.
Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10 sampai 15 biliun neuron. Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem saraf. Cara bekerja otak ini merupakan objek telaah dari berbagai disiplin keilmuan seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika teknik dan neuro- fisiologi. Sudah merupakan kenyataan yang tidak usah lagi di perdebatkan bahwa proses pemikiran manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek yang di telaahnya.
Aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat :mereka hanya berbeda dalam gejala di sebabkan proses yang berlainan  namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energi, dalam teori relativitas einstein, energi merupakan bentuk lain dari zat. Jadi yang membedakan robot dengan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata.
Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanyadapat diibaratkan lempeng lilin yang licin (tabula rasa) di mana pengalaman indra kemudian melekat pada lempeng tersebut dengan demikian pikiran dapat di ibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.berkeley terkenal dengan pernyataannya,”To be is to be perceived!”(ada adalah di sebabkan persepsi!).
To be is be perceived
(BERKELEY)
To be is not to be
(HAMLET)
To be do be do(diam! diam!)
(ARIE KUSMIRAN)
(Siapa bilang filsafat, sastra, dan lagu tak bisa berdampingan?). Bagi Berkeley maka buah apel itu hanya ada dalam pikiran seseorang. Jadi kalau tak ada yang memikirkan buah apel itu tak kan ada? Tanya seorang. Tetap saja ada,bersikeras Uskup Berkeley,apel itu ada dalam pikiran Tuhan.(salah satu jawaban yang paling orisinil dalam masalah tentang metafisika, Geleng Kemeny,namun sulitnya bagaiman kita mengetahui pikiran Tuhan itu sebenarrnya). Begini,jawab saya mungkin bisa, (disebelah kanan saya adalah profesor-profesor metafisik; disebelah kiri saya adalah kanak-kanak yang serba ingin tahu dan sebelum kenal dusta), pada hakikatnya ilmu tidak dapat dilepaskan dari metafisika,namun beberapa jauh kaitan itu semuanya tergantung kita.
Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya.Kalau memang itu tujuannya maka kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah yang ada di  dalamnya, bukan? Makin jauh kita beravuntuh dalam penjelajahan ilmiah masalah-masalah tersebut diatas mau tidak mau akan timbul: apakah dalam batu-batuan yang saya pelajari di laboratorium terpendam proses kimia fisika atau bersembunyi roh yang halus? Apakah manusia yang begitu hidup: tertawa,menangis dan jatuh cinta; semua itu proses kimia fisika juga?.Apakah pengetahuan yang saya dapatkan bersumber pada kesadaran mental ataukah hanya rangsangan pengindraan belaka?
Jadi pada dasarnya tiap ilmu boleh memiliki filsafat individual yang berbeda-beda: dia bisa menganut paham mekanistik; dia bisa menganut paham vitalistik; dia boleh setuju dengan Thomas Hobbes yang materialistik atau George Berkeley yang idealistik.    
Sekiranya terdapat dua orang dokter yang sedang mengukur tekanan darah seseorang dan mengaitkannya dengan kadar kolestrol di dalamnya, maka bahwa seorang yangtermasuk kubu mekanistik dan yang seorang lagi kubu vitalistik dalam preoses pemeriksaan ini komitmen filsafati mereka adalah tidak relevan lagi.Baru setelah dua dokter itu selesai bekerja dan menggantungkan jubah putihnya, mereka berpisah dengan memilih koridor spiritualnya masing-masing yang berbeda-beda, dalam berkontemplasi dan memberikan makna.”betapa luhurnya manusia,”bisik dokter yang satu.(pasiennya yang tadi adalah seorang tua yang sudah uzur:menderita tekanan darah tinggi dan sudah renta ,namun terpaksa membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.) Ah,nunc scio quid sit amor.akhirnya ku tahu juga wajah cinta.
“Betapa keroposnya manusia”, bisik dokter yang lainnya (dalam buku kecilnya tercatat: cholesterol 350, tekanan darah 90 x 180, kencing manis, asma, etcetera.)
2.      ASUMSI
Suatu hari pada jaman Wild West, seorang jago tembak yang kenamaan ditantang seorang petani yang mabuk. Petani ini adalah orang biasa, jadi sama sekali bukan jango,yang bisa tembak sana tembak sini sambil tutup mata, setelah dia minum wiski dan melahap 16 jenis masakan pesta. Cuma karena mabuk saja dia berlagak jadi jagoan disebabkan otaknya yang sedang out dari udara. Kalau waras,manas berani dia menantang penembak profesional yang sudah punya reputasi seantero dunia,dunianya koboi tentu saja.
Nah,apa yang akan terjadi? Bisik bandar taruhan. Bukankah kejadian semacam ini jarang ditemui seperti menemukan orang bisu sedang menyanyi? Lalu mulailah bandar taruhan ini mengumpulkan data dan informasi mengenai kedua gladiator yang akan bertarung sampai mati . Nama: Franco Nero,KTP nomor 9941940,RT 010,RW 13. Reputasi: 30 duel,30 kali menang dengan TM (tembak mati atau KO ,dalam Boxing).Duilah. Sedangkan petani kita namanya belum tercatat dalam daftar Guiness Record,kecuali dalam buku bapak camat,sebab dia masih menunggak Ipeda.
Berapa pasar taruhan kita? Bila semuanya berjalan beres,saran konsultan kepada bandar taruhan itu,berdasarkan data yang tercatat,maka paling tidak 30 berbanding 1 yang diramalkan petani malang itu akan mendapat one way ticket ke surga. Lantas apanya yang mungkin tak beres? Tanya bandar kita,yang benar-benar ingin aman menanam modalnya.
Ya,bermacam-macam,jawab konsultan yang sedang ngobyek ini yang pekerjaan sebenarnya adalah dosen filsafat ilmu di universitas swasta,umpamanya katakan sajalah bahwa pistol si jango itu punya kehendak sendiri  (free will),kan berabe?
Berabe gimana ? Ya mungkin saja pistol itu tidak mau menembak orang berdosa,apa lagi seorang nonprofesional yang belum diakreditasi.jadi nembak ya nembak namun nembaknya ngawur seperti tendangan PSSI.
Ah,itun nonsens,jawab bandar taruhan,itu bersifat akademik dan sangat spekulatif,mana ada pistol punya pilihan bebas,serkiranya pistol ditembakkan dan tepat pada sasaran maka secara deterministik sasaran itu akan kena.(rupanya bandar taruhan ini waktu sekolah di sekolah bisnis mengambil juga matakuliah etika berniaga)
Oke,jawab konmsultan kita,namun bagaimana kalau pistolnya macet?
Macet bagaimana? Ya,Macet,klik! Jawab konsultan itu.Dari data yang dikumpulkan ternyata bahwa dari 100 peluru yang ditembakkan sebuah pistol maka 1 diantaranya adalah macet.Artinya,secara probabilistik,meskipun peluangnya 1 dalam 100,mungkin saja pistol jago kita itu macet,yang menyebabkan dia tersambar “chance” (kebetulan) berupa nasib.
Nah,lalu merenunglah bandar taruhan kita,seperti juga merenungnya para filsuf ilmu sesudah itu.Mereka menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme,yakni hukum alam yang bersifat unoiversal,apakah hukum semacam itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas,ataukah keumuman memang ada namun berupa peluang,sekadar tangkapan probabilistik? Ketiga masalah ini yakni determinisme,pilihan bebas,dan probabilistik merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik.Tanpa mengenal ketiga aspek ini,sarta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan kompromi,akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan yang baik.
Nanti dulu,potong konsultan yang merangkap jadi filsuf ilmu,pembahasan mengenai determinisme,pilihan bebas dan probabilistik itu baru dapat dilakukan sekiranya bahwa hukum semacam itu memang ada .sekiranya hukum yang mengatur kejadian alam itu tidak ada maka masalah determinisme,probababilitas dan kehendak bebas itun sama sekali tidak akan muncul,kan?
Benar,juga ya,sekiranya hukum alam itu memang benar-benar tidak ada maka tidak akana ada permasalahan dengan determinisme,probabilistik atau pilihan bebas.dengan demikian maka tidak ada masalah tentang hubungan logam dengan panas ,tekanan dengan volume ,atau AQ dengan keberhasilan belajar.Alhasil lalu ilmu itu sendiri pun tidak ada sebab ilmu justru mempelajari hukum alam seperti ini.
Jadi,marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengatur berbagai kejadian itu memang ada,sebanb tanpa asumsi ini maka pembicaraan kita semuanya lantas sia-sia,tukas teoritikus filsafat ilmu.Hukum disini diartikan sebagai suatu aturan main atau pola kejadian yang diikuti oleh sebagian besar peserta,gejalanya berulang kali dapat diamati yang tiap kali memberikan hasil yang sama,yang dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum itu,seperti kata coca cola,berlaku kapan saja dan dimana saja.Bagaimana?
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588- 1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal.Aliran filsafat ini merupakan lawan dari paham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu.Demikian juga paham determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberika alternatif
Sebelum kita menentukan pilihan marilah kita merenung sejenak dan berfilsafat.(sudah agak lebih jelas mengenai kaitan antara ilmu dan filsafat ?) Sekiranya ilmu ingin menghasilkan hukum yang kebenarannya bersifat mutlak maka apakah tujuan ini cukup realistis untuk dicapai ilmu? Mungkin kalau sasaran ini dibidik ilmu maka kasanah pengetahuan ilmiah hanya terdiri dari beberapa gelintir pernyataan yang bersifat universal saja seperti semua manusia akhirnya akan mati juga apakah orang ini Robert Redford,Dra.Tatik atau Bagio.Semua manusia berkaki dua,umpamanya,tidak memenuhi persyaratan ini,sebab ada juga yang berkaki satu malahan juga mungkin tiga atau empat,masih ingat teka-teki waktu kita masih jadi kanak-kanak:makhluk apa,ayo,yang masih kecil berkaki empat,sudah besar berkaki dua,sudah tua menjadi tiga?.
Demikian juga,sekiranya sufat universal semacam ini yang disyaratkan ilmu,bagaimana kita mampu memenuhinyam,disebabkan kemampuan manusia,yang mungkin mengalami semua kejadian?.katakan saja bahwa kita unmpamanya menyimpulkan: Matahari selalu terbit di barat dan terbenam di timur;beranikah kita menjamin siapa tahu,pada hari anu dan bulan anu di tahun ke 2000 an,kejadiannya lalu terbalik yang mengakibatkan kesimpulan itu tidak berlaku?
Atau baiklah kita persempit menjadi pernyataan yang dibatasi masa kini seperti: pada hari ini bulan ini tahun 1982 ini,semua manusia indonesia memakai celana dalam.Oke kata saya,tetapi bagaimana caranya kita dapat sampai pada kesimpulan semacam ini? Ya,mudah saja, periksa semua celana dalam semua bangsa indonesia,baik yang punya KTP atau tidak ,dari sabang sampai metrauke,apakah mereka memakai celana atau tidak.
Tapi untuk itu kan sudah ada seni,potong ilmuan yang kerjanya memang melakukan generalisasi.Filsuf eksistensialis ini memang hebat sebagai seniman namun kurang meyakinkan sebagai filsuf,gerutu dia.(Cobalah Albert Camus sebagai “aperitif” dan Jean Paul Sartre sebagai main course).yang kita butuhkan adalah pengetahuan yang berada di tengah-tengah,antara kemutlakan yang dipunyai agama,dan keunikan individual yang bersifat seni,sambungnya.
Nah,kompromi yang diusulkan ilmuan inilah yang dipakai landasan ilmu,sebab ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari,tidaklah perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang berfungsi memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dan kehidupan ini.Walaupun demikian sampai tahap tertentun ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi ,sebab pengetahuan yang bersifat personal dan individual seperti upaya seni,tidaklah bersifat praktis.Jadi di antara kutub determinisme dan pilihan bebas ilmu menjatuhkan pilihannya terhadap penafsiran probabilistik.
3.      PELUANG
Peluang 0.8
Secara sederhana dapat diartikan bahwa probalilitas untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian) Atau sekiranya saya merasa pasti (100%) bahwa esok akan turun hujan maka saya saya akan berikan peluang 1.0.atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang 0.8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan 8 kali memang hujan itu turun,dan 2 kali ramalan itu meleset oleh sebab itu kiranya kita mempunyai pengetahuan ilmiah yang menyatakan bahwa “sekiranya hari mendung maka terdapat peluang 0.8 akan turun hujan”. Maka pengetahuan itu harus kita letakkan pada permasalahan hidup kita yang mempunyai perspektif dan bobot berbeda-beda. Katakanlah umpamanya saudara besok akan piknik, kemudian saudara mengetahui bahwa esok punya peluang 0.8 bahwa hari tidak akan hujan.
Biarpun ahli meteorfologi dan geofisika menyatakan bahwa terdapat peluang 0.95 atau bahkan 0.99 bahwa esok hari tidak akan hujan, saya akan tetap jalan-jalan bersama pacar ke Proyek Senin dan Binaria sambil tetap membawa payung.
4.      BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU.
Dalam analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis utama yakni zat,gerak,ruang dan waktu.Newton dalam bukunya Philosopiae Naturalis Prinsipia Mhatematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut dan dengan demikian berbeda secara substantif dengan energi.Jadi disini kita mengadakan asumsi lagi bahwa untuk membangun rumah ilmu ukur Euklid dianggap memenuhi syarat untuki dipergunakan. Sedangkan bagi amuba yang harus membangun rumah pada permukaan yang bergelombang, hal ini tidak demikian sebaiknya mereka memakai ilmu ukur yang dipakai dalam relativitas Enstain yakni ilmu ukur non-euclid. Apakah hal ini dapat dipertanggung jawabkan? Tanya seorang awam.

5.      BATAS –BATAS PENJELAJAHAN ILMU
Mengapa ilmu hanya membatasi dari pada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita? Jawabannya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusi: yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah sehari-hari. Ilmu diharapkan membantu kita memerangi penyakit, membangun jembatan,membikin irigasai, membangkitkan tenaga listrik, mendidik anak,memeratakan pendapatan nasional dan sebagainya. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya  secara empiris.
Mengenal batas-batas kita ini, disamping menunjukkan kematangan keilmuan jan keprofesional kita,juga dimaksudkan agar kita mengenal tetangga-tetangga kita.denga makin sempitnya daerah penjajahan suatu bidang keilmuan maka sering kali diperlukan “pandangan” dari disiplin-disiplin lain.

Cabang-Cabang Ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu- ilmu alam (the natur sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam diri membagi dalam dua kelompok lagi yakni ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang berbentuk alam semestasedangkan alam bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda- benda langit) dan ilmu bumi (atau the earth yang mempelajari bumi kita ini).

BAB IV
EPISTEMOLOGI
CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
1.      JARUM SEJARAH PENGTAHUAN
Salah satu cabang pengetahuan itu yang berkembang menurut jalannya sendiri adalah ilmu yang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya terutama dalam segi metodenya. Metode keilmuan adalah jelas sangat berbeda dengan ngelmu yang merupakan paradigma dari Abad Pertengahan. Demikian juga ilmu dapat dibedakan dari apa yang di telaahnya serta untuk apa ilmu itu dipergunakan.
2.      PENGETAHUAN
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu  tak ada, sebab pengetahuan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
Jadi pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar,dan bukannya sekedar jawaban yang bersipat sembarang saja. Lalu timbullah masalah,bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar?????? Masalah ini yang dalam kajian filsafati tersebut epistemologi, dan landasan epistemologiilmu disebut metode ilmiah. Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara yang di lakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar.
3.      METODE ILMIAH
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang di sebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan di sebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu pengetahuan di sebut ilmutercantum dengan apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.
Seperti diketahui berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresimengenai cara bekerja pikiran.dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang di hasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasionaldan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat dihandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikyumpulkan seberlumnya. Teori korespodensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan  dapat dianggap benar sekiranya materi yang terkandung dalam pernyataan itu bersesuaian (berkospondensi ) dengan obyek paktual yang di tuju oleh pernyataan tersebut.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi dalam melakukan penelitian mendapatkan jawaban yang benar maka seorang ilmuwan seakan-akan melakukan sesuatu dalam “interogasi terhadap alam”. Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan jawaban, karena alam itu sendiri membisu dan tidak responsif terhadap pertanyaan-pertanyaan. Harus kita sadari bahwa hipotesis itu sendiri merupakan yang bersifat sementara yang membantu kita dalam melakukan penyelidikan.
4.      STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat di sebut pengetahuan ilmiah atau ilmu.sepeti tampak dalm pembahasan terdahulu, pengetahuan ilmiah ini diproses lewat serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan, dan dari karakteristik inilah maka ilmu sering di konotasikan sebagai disiplin.
Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni deduktif,  probabilistik, fungsional atau teleologis dan genetik. Penjelasan deduktif  mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya. Penjelasan probabilistik merupakan penjelasan yang di tarik secara induktifdari jumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat peluang seperti “kemungkinan”, “kemungkinan besar” atau “hampir dapat dipastikan”. Penjelasan fungsional atau teleologis merupakn penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mwmpunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu. Penjelasan genetik mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian.

BAB VI
AKSIOLOGI
Nilai Kegunaan Ilmu


Mengalami zaman edan
Kita sulit menentukan sikap
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turut edan
Kita tidak bahagia
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan tuhan
Betapa bahagia pun mereka yang lupa
Lebih bahagia yang ingat serta waspada

(amenangi jaman edan
Ewuh ayah ink pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boye kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah kersa allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada)
Ranggawarsita (1802-1873)



1.      ILMU DAN MORAL

Penalaran otak orang itu luar biasa, demikian kesimpulan ilmuwan kerbau dalam makalahnya, namun meraka itu curang dan serakah.... pernyataan yang lugu ini, namun benar dan kena, sungguh menggelitik nurani kita. Benarkah bahwa makin cerdas, maka makin pandai kita menemukan kebenaran,maka benar makin baik pula perbuatan kita? Apakah manusia mempunya penalaran tinggi, lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi analisis yang hakiki, ataukah malah sebaliknya: makin cerdas maka makin pandai pula kita berdusta? Menyimak masalah ini, ada baiknya kita memperhatikan imbauan Profesor Ice Partadiredja dalam pidato pungkuhannya selaku guru besar ekonomi di universitas gajah mada, yang mengharapkan munculnya ilmu ekonomi yang tidak mengajarkan keserakahan.
Sejak dalam tahap-tahap pertama pertama pertumbuhannya ilmu sudah di kaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bakan saja di gunakan untuk menguasai melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dengan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh yang berhasil di kembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak massa. Di pihak lain, perkembangan ilmu sering melupakan faktor manusia, dimana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya:manusialah yang akhirnya yang harus menyasuaikan diri dengan teknologi. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaannya.manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaanya dan kebahagiaannya.
Sebenarnya sejak pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam persfektifyang berbeda. Ketika copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar menglilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbulah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan dipihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan  (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengendalian inkuisisi galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, di paksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Masalah teknologi yang mengakibatkan proses dehumanisasi yang sebenar-benarnya lebih merupakan masalah kebudayaan dari pada mesalah moral. Artinya, dihadapkan dengan ekses teknologi yang bersifat negatif ini, maka masyarakat harus menentukan teknologi mana saja yang akan di pergunakan dan teknologi mana yang tidak. Secara konseptual maka hal ini berarti bahwa suatu masyarakat harus menetapkan strategi pengembangan teknologinya agar sesuai dengan nilai-nilai budaya yang di junjungnya. Buku erich Schumacher yang berjudul small is beautiful, umpamanya, merupakan salah satu usaha untuk mencari alternatif penerapan teknologi yang lebih bersifat manusiawi.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak ini para ilmuawan terbagi ke dalam dua golongan pendapat, golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya; aqpakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan yang baik, ataukah di pergunakan untuk tujuan yang buruk. Golongan yang kedua malah sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metfisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan dalam pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Tahap tertinggi dalam kebudayaan moral manusia, ujar carles darwin, adalah ketika  ketika kita menyadari bahwa kita seyogyanya mengontrol pikiran kita.
Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah hidup manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial (social engineering). Berdasarkan ketiga hal ini maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus di tunjukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.
Sejarah manusia di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sekrates di paksa minum racun dan john huss di bakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: manusia tidak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran.
2.      TANGGUNG JAWAB SOSIAL ILMUWAN
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang di komunikasikan dan di kaji secara terbuka oleh masyarakat. Sekiranya hasil karya itu memenuhi syarat-syarat keilmuan maka dia terima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat tersebut. Atau dengan perkataan lain, penciptaan ilmu bersipat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersipat sosial. Peranan individu inilah yang menonjol dalam kemajuan ilmu dimana penemuan seorang seperti Newton dan Edison dapat mengubah peradaban. Kreativitas individu yang di dukung oleh sistem komunikasi ossial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu yang berjalan sangat efektif.
Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuan telah lama di kenal dan diakui. Raja charles II dari inggris mendirikan the Royal Society yang bertindak selaku penewar bagi panatisme di masyarakat pada waktu itu. Para ilmuwan pada waktu itu bersuara mengenai toleransi beragama dan pembakaran tukang-tukang sihir. Akhir- akhir ini di kenal dengan nama Andre Sakharov yang bukan saja mewakili sikap pribadinya namun pada hakikatnya mencerminkan sikap kelembagaan profesi keilmuan dalam menanggapi masalah-masalah sosial.
Pikiran manusia bukan saja dapat di pergunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran namun sekaligus juga dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan hal-hal yang tidak benar. Seorang manusia biasa berdalih untuk menutup-nutupi kesalahannya baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.dalih yang berbahaya adalah rasionalisasi yang disusun secara sistematis dan meyakinkan. Dalih semacam ini bisa memukau apa lagi didukung oleh sarana kekuasaan. Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seorang ilmuwan.
3.      NUKLIR DAN PILIHAN MORAL
Pada tanggal 2 agustus 1939 Albert Einstein menulis surat pada presiden Amerika serika Franklin. D. Roosevelt yang memuat rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang kemudian mengarah kepada pembuatan bom atom. Dalam surat itu Einstein antara lain mengatakan, “saya percaya bahwa merupakan kewajiban saya untuk memberitahukan kepada anda fakta-fakta dan rekomendasi sebagai berikut......” Alasan Enistin untuk menulis surat tersebut secara ekplisit juga termuat dalam suratnya kepada president Roosevelt dimana dia mengemukakan kekhawatirannya mengenai kemungkinan pembuatan bom atom oleh Nazi.
Salah satu musuh kemanusiaan yang besar adalah peperangan. Perang menyebabkan kehancuran, pembunuhan, dan kehancuran. Tugas ilmuwanlah yang untuk menghilangkan dan mengecilkan terjadinya peperangan ini meskipun hal ini merupakan sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Perang merupakan fakta dari sejarah kemanusiaan yang sukar untuk dihilangkan. Mungkin hal ini sudah merupakan fitrah dari manusia dan masyarakat kemanusiaan yang sudah mendarah daging. Walaupun demikian Einstein sampai akhir hayatnya tak jemu-jemunya menyerukan agar manusia menghentikan peperangan dan perlombaan persenjataan.
4.      REVOLUSI GENETIKA
Revolusi Genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaahan itu sendiri. Hal ini buakn berarti sebelumnya tidak ada penelaah ilmiahyang berkaitan dengan jasad manusia, tentu saja banyak sekali namun penelaahan-penelaahanini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, dan tidak membidik secara langsungmanusia sebagai objek penelaahan.
Pembahasan diatas didasarkan kepada asumsi bahwa penemuan dalam riset genetikaakan di pergunakan dengan etikad baik untuk keluhuran manusia. Bagaimana sekiranya penemuan ini jatuh kepada pihak yang tidak bertanggung jawab dan menggunakan penemuan ilmiah ini untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat destruktif.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari keseluruhan pembahasan kita tersebut di atas menyatakan sikapyang menolak terhadap dijadikannya manusia sebagai objek penelitian genetika. Secara moral kita lakukan evaluasi etis terhadap suatu objek yang tercakup dalam objek formal (ontologis) ilmu.